At – Tibyan (08. Adab Berinteraksi Dengan Al-Qur’an – 84. Hukum Mengagungkannya)


حكم تعظيمه

[فصل] أجمع المسلمون على وجوب تعظيم القرآن العزيز على الاطلاق وتنزيهه وصيانته وأجمعوا على أن من جحد منه حرفا مما أجمع عليه أو زاد حرفا لم يقرأ به أحد وهو عالم بذلك فهو كافر

Masalah ke-84:  Hukum Mengagungkannya

Kaum muslimin sependapat atas wajibnya mengagungkan Al-Qur’an yang mulia secara mutlak, menyucikan dan menjaganya. Dan mereka sependapat bahwa siapa yang mengingkari satu huruf darinya yang telah disepakati keberadaannya atau menambah satu huruf yang tidak pernah dibaca oleh seorang pun padahal dia mengetahui hal itu, maka dia kafir.

قال الامام الحافظ أبو الفضل القاضي عياض رحمه الله إعلم أن من استخف بالقرآن أو المصحف أو بشئ منه أو سبهما أو جحد حرفا منه أو كذب بشئ مما صرح به فيه من حكم أو خبر أو أثبت ما نفاه أو نفي ما أثبته وهو عالم بذلك أو يشك في شئ من ذلك فهو كافر بإجماع المسلمين

Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa siapa yang meremehkan Al-Qur’an atau Mushafnya atau sebagian darinya atau mencela keduanya atau mengingkari satu huruf darinya atau mendustakan sesuatu hukum atau kabar yang ditegaskan di dalamnya atau menetapkan sesuatu yang dinafikannya atau menafikan sesuatu yang ditetapkannya, sedang dia mengetahui hal itu atau meragukan sesuatu dari hal itu, maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan ulama muslimin.

 

وكذلك إذا جحد التوراة والانجيل أو كتب الله المنزلة أو كفر بها أو سبها أو استخف بها فهو كافر

Demikian juga jika dia mengingkari Taurat dan Injil atau Kitab-kitab Allah Yang telah diturunkan, atau kafir dengannya atau mencelanya atau meremehkannya, maka dia telah kafir.

 

تنبيه وقد أجمع المسلمون على أن القرآن المتلو في الاقطار المكتوب في الصحف الذي بأيدي المسلمين مما جمعة الدفتان من أول الحمد لله رب العالمين إلى آخر قل أعوذ برب الناس كلام الله ووحيه المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم

Peringatan: Para ulama muslimin sependapat bahwa Al-Qur’an yang dibaca di negeri-negeri dan tertulis di dalam Mushaf yang berada di tangan kaum muslimin dan dihimpun di antara dua sampul mulai dari AlHamdulillahi rabbil ‘aalamiin hingga akhir Qul A’uudzu birabbin naas adalah Kalamullah dan wahyu-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam.

 

وأن جميع ما فيه حق وأن من نقص منه حرفا قاصدا لذلك أو بدله بحرف آخر مكانه أو زاد فيه حرفا مما لم يشتمل عليه المصحف الذي وقع فيه الاجماع وأجمع على أنه ليس بقرآن عامدا لكل هذا فهو كافر

Dan mereka sependapat bahwa semua yang terdapat di dalamnya adalah benar dan barangsiapa yang menguranginya dengan sengaja atau menggantikan satu huruf dengan huruf lainnya atau menambah satu huruf di dalamnya yang tidak tercatat dalam Mushaf yang telah disepakati bahwa huruf itu bukan termasuk Al-Qur’an, maka dia telah kafir.

 

قال أبو عثمان بن الحداد جميع أهل التوحيد متفقون على أن الجحد بحرف من القرآن كفر

Abu Usman Al-Haddad berkata, “Semua ahli tauhid bersepakat bahwa mengingkari satu huruf dari Al-Qur’an adalah kufur.”

 

وقد اتفق فقهاء بغداد على استتابة ابن شنبوذ المقرئ أحد أئمة المقرئين المتصدرين بها مع ابن مجاهد لقراءته وإقرأئه بشواذ من الحروف مما ليس في المصحف وعقدوا عليه للرجوع عنه والتوبة سجلا أشهدوا فيه على نفسه في مجلس الوزير أبي بن مقلة سنة ثلاث وعشرين وثلثمائة

Fuqaha Baghdad sependapat untuk menyuruh bertaubat kepada Ibnu Syanbudz Al-Muqri seorang imam qari (yang mahir membaca) Al-Qur’an terkemuka bersama Ibnu Mujahid karena membaca dan mengajarkan bacaan dengan huruf-huruf yang ganjil dan tidak terdapat dalam Mushaf. Mereka menyuruhnya membuat pernyataan untuk berhenti dan bertaubat dengan kesaksiaam mereka di majelis Al-Waziir Ubay bin Maqlah tahun 323 H.

 

وأفتى محمد بن أبي زيد فيمن قال لصبي لعن الله معلمك وما علمك قال أردت سوء الأدب ولم أرد القرآن قال يؤدب القائل قال وأما من لعن المصحف فانه يقتل هذا آخر كلام القاضي عياض رحمه الله

Muhammad bin Abu Zaid berfatwa berkenaan dengan orang yang mengatakan kepada seorang anak kecil,” Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengutuk gurumu dan apa yang diajarkannya kepadamu”, kemudian dia berasalan: “Aku maksudkan adab yang tidak baik dan tidak saya maksudkan Al-Qur’an.” Maka Muhammad berkata: “Orang yang mengatakan itu perlu dihukum, adapun yang mengutuk Mushaf, maka dia dihukum bunuh.” Inilah akhir pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Maret 2017
M S S R K J S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: