At – Tibyan (07. Adab Dan Etika Membaca Al-Qur’an – 67. Berkenaan dengan orang yang disunahkan untuk Sujud Tilawah)


[فصل] فيمن يسن له السجود اعلم أنه يسن للقارئ المطهر بالماء أو التراب حيث يجوز سواء كان في الصلاة أو خارجا منها ويسن للمستمع ويسن أيضا للسامع غير المستمع ولكن قال الشافعي لا أؤكد في حقة كما أؤكد في حق المستمع هذا هو الصحيح

Masalah ke-67:  Berkenaan dengan orang yang disunahkan untuk Sujud Tilawah.

Perlu diketahui bahwa disunahkan melakukan Sujud Tilawah bagi pembaca Al-Qur’an yang bersuci dengan air atau tanah, sama saja dalam shalat atau di luarnya. Disunahkan pula bagi orang yang mendengar dan orang yang mendengar tanpa sengaja. Bagaimanapun Imam Asy-Syafi’i berkata, “saya tidak menekankan ke atasnya sebagaimana saya tekankan bagi orang yang sengaja mendengarkan”. Inilah pendapat yang shahih.

وقال إمام الحرمين من أصحابنا لا يسجد السامع والمشهور الأول وسواء كان القارئ في الصلاة أو خارجا منها يسن للسامع والمستمع السجود وسواء سجد القارئ أم لا هذا هو الصحيح المشهور عند أصحاب الشافعي وبه قال أبو حنيفة : وقال صاحب البيان من أصحاب الشافعي لا يسجد المستمع لقراءة من قرأ في الصلاة

Imamul Haramain sahabat kami berkata, bahwa orang yang tidak sengaja mendengar maka tidak perlu sujud. Pendapat yang masyhur adalah pendapat pertama. Tidak ada bedanya, apakah  pembacanya sedang shalat atau tidak, disunahkan bagi orang yang mendengar ataupun yang tidak sengaja mendengar untuk sujud,  sama saja pembacanya sujud atau tidak. Inilah pendapat yang shahih dan masyhur menurut para sahabat Asy-Syafi’i. Abu Hanifah juga menyatakan demikian. Penulis “Al-Bayaan” dari kalangan sahabat AsySyafi’i menyatakan, bahwa tidak perlu sujud bagi orang yang mendengar bacaan orang yang membaca di dalam shalat.

 

وقال الصيدلاني من أصحاب الشافعي لا يسن السجود إلا أن يسجد القارئ والصواب الأول ولا فرق بين أن يكون القارئ مسلما بالغا متطهرا رجلا وبين أن يكون كافرا أو صبيا أو محدثا أو امرأة هذا هو الصحيح عندنا وبه قال أبو حنيفة

Ash-Shaidalani sahabat Asy-Syafi’i mengatakan bahwa sujud disunnahkan hanya jika pembacanya sujud. Namun pendapat yang lebih benar adalah pendapat pertama. Tidak ada bedanya sama saja pembacanya seorang muslim laki-laki yang sudah baligh dan bersuci atau seorang kafir atau anak kecil atau berhadats atau seorang perempuan. Ini adalah pendapat yang sahih menurut kami dan ini pula pendapat Abu Hanifah.

 

وقال بعض أصحابنا لا يسجد لقراءة الكافر والصبي والمحدث والسكران وقال جماعة من السلف لا يسجد لقراءة المرأة حكاه ابن المنذر عن قتادة ومالك وإسحق والصواب ما قدمناه

Sebagian sahabat kami berkata, tidak perlu sujud untuk bacaan orang kafir, anak kecil, orang yang berhadats dan orang yang mabuk. Sejumlah ulama Salaf berkata, bahwa tidak perlu sujud untuk bacaan perempuan. Demikian diceritakan oleh Ibnul Mundzir dari Qatadah, Malik dan Ishaq. Pendapat yang lebih benar adalah apa yang telah kami kemukakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Februari 2017
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  
%d blogger menyukai ini: