At – Tibyan (07. Adab Dan Etika Membaca Al-Qur’an – 63. Sujud Tilawah, Salah Satu Yang Mesti Diperhatikan)


[فصل] في سجود التلاوة وهو مما يتأكد الاعتناء به فقد أجمع العلماء على الامر بسجود

التلاوة واختلفوا في انه أمر استحباب ام إيجاب

Masalah ke-63:  Sujud Tilawah, Salah Satu Yang Mesti Diperhatikan

Para ulama sependapat bahwa Sujud Tilawah disyari’atkan. Hanya saja mereka berlainan pendapat apakah hal itu merupakan sunah atau wajib?

فقال الجماهير ليس بواجب بل مستحب وهذا قول عمر بن الخطاب رضي الله عنه وابن عباس وعمران بن حصين ومالك والأوزاعي والشافعي وأحمد وإسحق وأبي ثور وداود وغيرهم

Jumhur ulama mengatakan tidak wajib, tetapi mustahab (sunah). Ini adalah pendapat Umar Ibnu Al-Khattab , Ibnu Abbas, Imran bin Hushan radhiyallohu ‘anhum, Malik, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Dawud dan lainnya.

 

وقال أبو حنيفة رحمه الله هو واجب واحتج بقوله تعالى

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib. Beliau berhujah dengan firman Allah Ta’ala:

 

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ

Artinya: “Mengapa mereka tidak beriman. Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS Al-Insyiqaaq 84:20-21)

 

واحتج الجمهور بما صح عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه انه قرأ على المنبر يوم الجمعة سورة النمل حتى إذا جاء السجدة نزل فسجد وسجد الناس حتى إذا كانت الجمعة القابلة قرأ بها حتى إذا جاء السجدة قال يا أيها الناس إنما نمر بالسجود فمن سجد فقد أصاب ومن لم يسجد فلا إثم عليه ولم يسجد عمر )رواه البخاري(

Adapun jumhur ulama berhujjah dengan hadits yang shahih dari Umar Ibnu Al-

Khattab radhiyallohu ‘anhu, “Bahwa ketika di atas mimbar pada hari Jum’at beliau membaca surat An-Naml hingga sampai ayat sajdah, beliau turun kemudian sujud dan orang-orang pun ikut sujud. Pada hari Jum’at berikutnya beliau membacanya lagi hingga tiba pada ayat sajdah, katanya: ‘Wahai para manusia. Sesungguhnya kita melalui tempat sujud, maka barangsiapa yang sujud, dia telah melakukan sesuatu yang benar. Dan siapa yang tidak sujud, dia tidak berdosa,’ dan Umar tidak sujud.” (Riwayat Bukhari)

 

وهذا الفعل والقول من عمر رضي الله عنه في هذا المجمع دليل ظاهر

Perbuatan dan perkataan Umar radhiyallohu ‘anhu di majelis tersebut adalah dalil yang jelas.

 

وأما الجواب عن الآية التي احتج بها أبو حنيفة رضي الله عنه فظاهر لأن المراد ذمهم على ترك السجود تكذيبا كما قال تعالى بعده

Sementara jawaban terhadap ayat yang dijadikan hujjah oleh Abu Hanifah radhiyallohu ‘anhu adalah jelas karena yang dimaksud adalah mencela mereka yang meninggalkan sujud karena mendustakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala sesudahnya:

 

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ

Artinya: “Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya)” (QS Al-Insyiqaaq 84:22)

 

وثبت في الصحيحين عن زيد بن ثابت رضي الله عنه أنه قرأ على النبي صلى الله عليه وسلم: والنجم فلم يسجد

Diriwayatkan dalam Shahihain dari Zaid bin Tsabit radhiyallohu ‘anhu “bahwa ketika di hadapan Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, dia membaca ‘Wa-Najmi’ dan beliau tidak sujud.”

 

وثبت في الصحيحين أنه صلى الله عليه وسلم: سجد في النجم فدل على أنه ليس بواجب

Diriwayatkan dalam Shahihain “bahwa Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membaca surat An-Najm.” Maka semua itu menunjukkan bahwa Sujud Tilawah tidak wajib.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Februari 2017
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  
%d blogger menyukai ini: