At – Tibyan (07. Adab Dan Etika Membaca Al-Qur’an – 48. Membaca Dengan Suara Keras)


[فصل] في رفع الصوت بالقراءة هذا فصل مهم ينبغي أن يعتنى به إعلم أنه جاء أحاديث كثيرة في الصحيح وغيره دالة على استحباب رفع الصوت بالقراءة وجاءت آثار دالة على استحباب الإخفاء وخفض الصوت وسنذكر منها طرفا يسيرا إشارة إلى اصلها إن شاء الله تعالى

Masalah ke-48:  Membaca Al-Qur’an dengan Keras

Ini merupakan pembahasan yang penting dan patut diperhatikan. Ketahuilah bahwa banyak hadits dalam kitab shahih dan lainnya yang menunjukkan anjuran mengeraskan suara ketika membaca. Terdapat beberapa atsar yang menunjukkan anjuran merendahkan suara, di antaranya akan saya sebutkan secara ringkas, insya-Allah .

قال الامام أبو حامد الغزالي وغيره من العلماء وطريق الجمع بين الأحاديث والآثار المختلفة في هذا أن الإسرار أبعد من الرياء فهو أفضل في حق من يخاف ذلك فإن لم يخف الرياء فالجهر ورفع الصوت أفضل لان العمل فيه أكثر ولأن فائدته تتعدى إلى غيره

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan ulama lainnya menyatakan, cara menggabungkan antara hadits-hadits dan atsar-atsar berkenaan dengan ini ialah bahwa merendahkan suara adalah untuk menghindari riya’. Kondisi ini lebih utama bagi orang khawatir terjatuh kepada riya’. Jika tidak ada kekhawatiran, maka mengeraskan suara lebih baik karena lebih banyak yang diamalkan dan berfaedah meluas kepada orang lain.

 

والمتعدي أفضل من اللازم ولأنه يوقظ قلب القارئ ويجمع همه إلى الفكر فيه ويصرف سمعه إليه ويطرد النوم ويزيد في النشاط ويوقظ غيره من نائم وغافل وينشطه

Al-Muta’addiy (meluaskan manfaat kepada orang lain) lebih utama dari Al-Lazim (Berkenaan dengan diri sendiri). Bacaan dengan suara yang kuat akan menggugah hati pembacanya dan mengumpulkan gairahnya untuk  merenungkannya, mengarahkan pendengarannya, mengusir tidurnya dan menambah giatnya. Juga akan menggugah orang lain yang tertidur dan orang yang lalai serta membangkitkan semangat mereka.

 

قالوا فمهما حضره شئ من هذه النيات فالجهر أفضل فإن اجتمعت هذه النيات تضاعف الأجر

Mereka berkata: “Meskipun keutamaan tersebut bergantung pada niatnya, namun menguatkan suara jauh lebih baik. Apalagi jika niat-niat ini berkumpul, maka pahalanya berlipat ganda.

 

قال الغزالي ولهذا قلنا

Al-Ghazali berkata: “Oleh karenanya kami katakan:

 

القراءة في المصحف أفضل فهذا حكم المسألة

“Membaca dengan melihat Mushaf lebih baik, ini adalah hukum masalahnya.”

 

وأما الآثار المنقولة فكثيرة وأنا أشير إلى أطراف من بعضها ثبت في الصحيح عن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم: يقول

Banyak atsar yang menulis berkenaan dengan perkara tersebut dan saya kemukakan sebagian darinya. Diriwayatkan dalam kitab sahih dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

ما أذن الله لشئ ما أذن لنبي حسن الصوت يتغنى بالقرآن يجهر به

)رواه البخاري ومسلم (

Artinya: “Tidaklah Allah mendengar sesuatu seperti yang di dengar-Nya dari seorang Nabi yang bagus suaranya melagukan Al-Qur’an dan menguatkan suaranya.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

ومعنى أذن استمع وهو إشارة إلى الرضا والقبول وعن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال

“Adzina” bermakna “istama’a” yaitu berarti “mendengar”. Ini adalah isyarat kepada keridhaan dan penerimaan. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

 

لقد اوتيت مزمارا من مزامير آل داود )رواه البخاري ومسلم(

Artinya: “Engkau telah diberi seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

 

وفي رواية لمسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال له

Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

 

لقد رأيتني وأنا أستمع لقراءتك البارحة

Artinya: “Aku bermimpi mendengar bacaanmu semalam.”

 

 

ورواه مسلم من رواية بريد بن الخصيب وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Barid Ibnu Al-Khushaib dan dari Fudhalah bin Ubaid radhiyallohu ‘anhu, katanya: Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لله أشد أذنا إلى الرجل حسن الصوت بالقرآن من صاحب القينة إلى قينته (رواه ابن ماجه)

Artinya: “Sungguh Allah lebih mendengar orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu daripada pemilik hamba perempuan kepada hamba perempuannya.” (Riwayat Ibnu Majah)

 

وعن أبي موسى أيضا قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Diriwayatkan dari Abu Musa pula, katanya: Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أني لأعرف أصوات رفقة الأشعريين بالليل حين يدخلون وأعرف مازلهم كل من أصواتهم بالقرآن بالليل وإن كنت لم أر منازلهم حين نزلوا بالنهار رواه البخاري ومسلم

Artinya: “Sungguh aku mengenali suara rombongan Al-Asy’ariyyin waktu malam ketika mereka masuk dan aku mengenal tempat-tempat mereka dari suara mereka ketika membaca Al-Qur’an di waktu malam, meskipun aku tidak melihat tempat-tempat mereka ketika mereka berhenti di waktu siang.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

 

وعن البراء بن عازب رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Diriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallohu ‘anhu, katanya: Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

زينوا القرآن بأصواتكم )رواه أبو داود والنسائي وغيرهما(

Artinya: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (Riwayat Abu Dawud Nasa’i dan lainnya)

 

وروى ابن أبي داود عن علي رضي الله عنه أنه سمع ضجة ناس في المسجد يقرؤون القرآن فقال طوبى لهؤلاء كانوا أحب الناس لرسول الله صلى الله عليه وسلم

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Ali radhiyallohu ‘anhu bahwa dia mendengar suara orang-orang membaca Al-Qur’an di dalam masjid, kemudian dia berkata: “Beruntunglah mereka ini. Mereka orang-orang yang paling disukai Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam.”

 

وفي إثبات الجهر أحاديث كثيرة وأما الآثار عن الصحابة والتابعين من أقوالهم وأفعالهم فأكثر من أن تحصر وأشهر من أن تذكر وهذا كله فيمن لا يخاف رياء ولا إعجابا ولا نحوهما من القبائح ولا يؤذي جماعة يلبس عليهم صلاتهم ويخلطها عليهم

Terdapat banyak hadits berkenaan dengan membaca Al-Qur’an dengan suara kuat. Adapun atsar-atsar tentang perkataan dan perbuatan para sahabat dan tabi’in, maka jumlahnya tidak terhitung banyaknya dan amat mahsyur. Semua ini berkenaan dengan orang yang tidak takut riya’ dan tidak takut ‘ujub ataupun perbuatan-perbuatan buruk lainnya serta tidak mengganggu jamaah lainnya karena mengacaukan shalat mereka.

وقد نقل عن جماعة السلف اختيار الإخفاء لخوفهم مما ذكرناه

Telah dinukil dari para Salaf bahwa mereka lebih suka merendahkan suara karena khawatir dengan apa yang kita sebutkan di atas.

 

فعن الأعمش قال دخلت على ابراهيم وهو يقرأ بالمصحف فاستأذن عليه رجل فغطاه وقال لا يرى هذا أني أقرأ كل ساعة

Diriwayatkan dari Al-A’Masy, katanya: “Aku masuk ke rumah Ibrahim yang sedang membaca Mushaf Al-Qur’an. Kemudian seorang lelaki minta izin kepadanya, langsung saja dia menutup Mushaf sambil berkata: “Jangan sampai orang itu mengetahui kalau aku membacanya setiap waktu.”

 

وعن أبي العالية قال كنت جالسا مع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: ورضي الله عنهم فقال رجل منهم قرأت الليلة كذا فقالوا هذا حظك منه

Diriwayatkan dari Abu Al-‘Aliyah, katanya: “Aku duduk bersama para sahabat Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Semalam aku membaca dari sini.’ Maka mereka berkata, ‘Itu bahagian kamu.”

 

ويستدل لهؤلاء بحديث عقبة بن عامر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم: يقول

Mereka berdalil dengan hadits Uqbah bin Amir radhiyallohu ‘anhu, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة )رواه أبو داود والترمذي والنسائي(

Artinya: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara yang kuat seperti orang yang bersedekah terang-terangan dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan diam-diam seperti orang yang bersedekah dengan diam-diam.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

 

قال الترمذي حديث حسن قال ومعناه أن الذي يسر بقراءة القرآن أفضل من الذي يجهر بها لأن صدقة السر أفضل عند أهل العلم من صدقة العلانية

Tirmidzi menyatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan, katanya: “Maksudnya ialah orang yang membaca Al-Qur’an dengan diam-diam lebih baik daripada orang yang membacanya dengan suara kuat. Sebab menurut para ulama, sedekah dengan diam-diam lebik baik daripada sedekah secara terang-terangan.”

 

قال وإنما معنى هذا الحديث عند أهل العلم لكي يأمن الرجل من العجب لأن الذي يسر بالعمل لا يخاف عليه من العجب كما يخاف عليه من علانيته

Dia menyatakan, para ulama memaknai hadits tersebut adalah supaya orang itu terhindar dari merasa kagum pada dirinya, karena orang yang beramal dengan diam-diam tidak dikhawatirkan terkena ‘ujub, sebagaimana ‘ujub tersebut dikhawatirkan padanya jika melakukannya dengan terang-terangan.

 

قلت وكل هذا موافق لما تقدم تقريره في أول الفصل من التفصيل وأنه إن خاف بسبب الجهر شيئا مما يكره لم يجهر وإن لم يخف استحب الجهر فإن كانت القراءة من جماعة مجتمعين تأكد استحباب الجهر لما قدمناه ولما يحصل فيه من نفع غيرهم والله أعلم

Saya katakan, semua ini sesuai dengan penjelasan yang telah saya jelaskan secara terperinci di awal. Jika khawatir mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dengan sebab menguatkan suara, maka janganlah menguatkan suara. Jika tidak khawatir maka lebih utama menguatkan suara. Jika bacaan dilakukan oleh jamaah secara bersama-sama, maka diutamakan sekali agar menguatkan suara berdasarkan alasan yang telah disebutkan, dan karena cara ini bermanfaat bagi orang lain. Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Februari 2017
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  
%d blogger menyukai ini: