At – Tibyan (07. Adab Dan Etika Membaca Al-Qur’an – 30. Ber-‘Tayammum’ Untuk Membaca Al-Qur’an)


[فصل] إذا لم يجد الجنب أو الحائض ماء تيمم ويباح له القراءة والصلاة وغيرهما

فإن أحدث حرمت عليه الصلاة ولم تحرم القراءة والجلوس في المسجد وغيرهما مما لا يحرم على المحدث كما لو اغتسل ثم أحدث وهذا مما يسأل عنه ويستغرب

Masalah ke-30:  

Jika orang yang berjunub atau perempuan yang haid tidak menemukan air, maka dia bertayamun dan dibolehkan baginya membaca Al-Qur’an, shalat serta lainnya. Jika dia berhadats, haram atasnya mengerjakan shalat dan tidak haram membaca Al-Qur’an dan duduk di dalam masji atau lainnya yang tidak haram atas orang yang berhadats sebagaimana jika dia mandi, kemudian berhadats. Ini adalah sesuatu yang dipersoalkan dan dianggap asing.

فيقال جنب يمنع من الصلاة ولا يمنع من قراءة القرآن والجلوس في المسجد من غير ضرورة كيف صورته فهذا صورته ثم الأقرب لا فرق مما ذكرناه بين تيمم الجنب في الحضر والسفر

Maka dikatakan, orang berjunub dilarang shalat dan tidak dilarang membaca Al-Qur’an dan duduk di masjid tanpa keperluan, bagaimana bentuknya? Inilah bentuknya. Kemudian yang lebih dekat ialah tidak ada bedanya antara tayamum orang yang berjunub di tempat tinggalnya dan ketika musafir.

 

وذكر بعض أصحاب الشافعي أنه إذا تيمم في الحضر استباح الصلاة ولا يقرأ بعدها ولا يجلس في المسجد والصحيح جواز ذلك كما قدمناه * ولو تيمم ثم صلى وقرأ ثم رأى ماء يلزمه استعماله فإنه يحرم عليه القراءة وجميع ما يحرم على الجنب حتى يغتسل * ولو تيمم وصلى وقرأ ثم أراد التيمم لحدث أو لفريضة أخرى أو لغير ذلك فإنه لا يحرم عليه القراءة على المذهب الصحيح المختار

Sebagian ulama pengikut Asy-Syafi’i berkata, bahwa jika dia bertayamum di tempat tinggalnya, maka diperbolehkan shalat namun tidak boleh membaca Al-Qur’an sesudahnya atau duduk di masjid. Pendapat yang lebih sahih ialah boleh melakukan itu sebagaimana telah saya kemukakan. Sekiranya dia bertayamum, kemudian shalat dan membaca Al-Qur’an, kemudian dia mendapati air maka dia wajib memakai air itu untuk membersihkan hadats, karena hukumnya haram melakukan ibadah-ibadah tersebut sehingga dia mandi. Seandainya dia bertayammum, kemudian shalat dan membaca Al-Qur’an kemudian ingin bertayamum karena berhadats atau untuk mengerjakan shalat fardhu lainnya maka tidak haram atasnya membaca Al-Qur’an, demikian menurut pendapat yang sahih dan terpilih.

 

وفيه وجه لبعض أصحاب الشافعي أنه لا يجوز والمعروف الأول أما إذا لم يجد الجنب ماء ولا ترابا فإنه يصلي لحرمة الوقت على حسب حاله ويحرم عليه القراءة خارج الصلاة ويحرم عليه أن يقرأ في الصلاة ما زاد على فاتحة الكتاب

Terdapat pendapat dari sebagian pengikut Asy-Syafi’i yang mengatakan hal itu tidak boleh. Pendapat yang lebih terkenal adalah pendapat pertama. Jika orang yang berjunub tidak menemukan air ataupun tanah, maka dia boleh shalat untuk memuliakan waktu shalat, sesuai dengan keadaannya dan haram atasnya membaca Al-Qur’an di luar shalat. Begitu pula diharamkan atasnya membaca Al-Qur’an dalam shalat selain Al-Fatihah.

 

وهل يحرم عليه قراءة الفاتحة فيه وجهان

Apakah haram atasnya membaca Al-Fatihah? Terdapat dua pendapat berkenaan dengan masalah ini.

 

الصحيح المختار أنه لا يحرم بل يجب فإن الصلاة لا تصح إلا بها وكلما جازت الصلاة لضرورة مع الجنابة يجوز القراءة

Pendapat pertama: Ini pendapat yang sahih dan kuat, yaitu tidak haram, bahkan wajib karena shalat itu tidak sah tanpa membaca Al-Fatihah. Manakala diperbolehkan shalat dalam keadaan darurat, dalam keadaan janabah, maka diperbolehkan pula membaca Al-Qur’an.

 

والثاني لا يجوز بل يأتي بالأذكار التي يأتي بها العاجز الذي لا يحفظ شيئا من القرآن لأن هذا عاجز شرعا فصار كالعاجز حسا والصواب الأول وهذه الفروع التي ذكرناها يحتاج إليها فلهذا أشرت إليها بأوجز العبارات وإلا فلها أدلة وتتمات كثيرة معروفة في كتب الفقه والله أعلم

Pendapat kedua: Tidak boleh, akan tetapi hendaklah dia membaca dzikir-dzikir yang dibaca oleh orang yang tidak mampu dan tidak hafal sedikit pun dari Al-Qur’an. Karena orang ini tidak mampu menurut syara’, maka dia seperti orang yang tidak mampu menurut kenyataan. Namun Pendapat yang lebih benar adalah pendapat yang pertama. Inilah beberapa permasalahan furu’ yang saya pandang perlu untuk disebutkan. Oleh sebab itu saya menyinggungnya dengan kalimat yang paling ringkas. Kalau ingin lebih lengkap, maka ada dalil-dalil dan keterangan lebih lanjut yang banyak dan dikenal dalam kitab-kitab fiqh. Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Januari 2017
M S S R K J S
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d blogger menyukai ini: