At – Tibyan (06. Akhlak Penghafal Al-Qur’an – 23. Menghindari Mata Pencaharian Dari Al Qur’an)


بعده عن التكسب به

[فصل] ومن أهم ما يؤمر به أن يحذر كل الحذر من اتخاذ القرآن معيشة يكتسب بها فقد جاء عن عبد الرحمن بن شبيل رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Masalah ke-23:  Menghindari Mata Pencaharian Dari Al Qur’an

Hal yang perlu menjadi perhatian bagi penghafal Al-Qur’an ialah supaya menghindarkan diri dari menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber penghasilan atau mata pencaharian dalam kehidupannya. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Syibil radhiyallohu ‘anhu, katanya: Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقرؤوا القرآن ولا تأكلوا به ولا تجفوا عنه ولا تغلوا فيه

Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, tetapi jangan menggunakannya untuk mencari makan, jangan menjauhinya dan jangan pula berlebihan.”

 

وعن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم: اقرؤوا القرآن من قبل أن يأتي قوم يقيمونه إقامة القدح يتعجلونه ولا يتأجلونه

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam : “Bacalah Al-Qur’an sebelum datang suatu kaum yang menegakkannya seperti menegakkan anak panah, mereka terburu-buru dan tidak mengharapkan hasilnya di masa depan.”

 

ورواه أبو داود بمعناه من رواية سهل بن سعد معناه يتعجلون أجره إما بمال وإما سمعة ونحوها

Abu Dawud meriwayatkan yang semakna dari riwayat Sahl bin Sa’ad, artinya mereka mengharapkan upahnya dengan segera berupa uang atau ketenaran dan sebagainya.

 

وعن فضيل بن عمرو رضي الله عنه قال دخل رجلان من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم مسجدا فلما سلم الإمام قام رجل فتلا آيات من القرآن ثم سأل فقال أحدهما إنا لله وإنا إليه راجعون سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم: يقول سيجئ قوم يسألون بالقرآن فمن سأل بالقرآن فلا تعطوه

Diriwayatkan dari Fudhai bin ‘Amri radhiyallohu ‘anhu, katanya: “Dua orang sahabat Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid. Ketika imam selesai  salam, seorang lelaki berdiri kemudian membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an, kemudian dia meminta-minta. Salah seorang dari keduanya berkata, “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un.’ Aku mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan datang suatu kaum yang meminta upah karena membaca Al-Qur’an. Maka siapa yang meminta upah dari membaca Al-Qur’an, janganlah kalian memberinya.”

 

وهذا الإسناد منقطع فإن الفضل بن عمرو لم يسمع الصحابة

Sanad riwayat ini terputus karena Al-Fudhail bin ‘Amri tidak mendengar dari sahabat.

 

وأما أخذ الأجرة على تعليم القرآن فقد اختلف العلماء فيه

Adapun mengambil upah karena mengajar Al-Qur’an, maka para ulama berlainan pendapat.

 

فحكى الإمام أبو سليمان الخطابي منع أخذ الأجرة عليه من جماعة من العلماء منهم الزهري وأبو حنيفة وعن جماعة أنه يجوز إن لم يشترطه وهو قول الحسن البصري والشعبي وابن سيرين وذهب عطاء ومالك والشافعي وآخرون إلى جوازها إن شارطه واستأجره إجارة صحيحة وقد جاء بالجواز الأحاديث الصحيحة

Imam Abu Sulaiman Al-Khattabi menyebutkan larangan mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an menurut sejumlah ulama, di antaranya Az-Zuhri dan Abu Hanifah. Sejumlah ulama lainnya mengatakan boleh mengambil upah jika tidak mensyaratkannya, ini pendapat Hasan al-Bashri, Sya’bi dan Ibnu Sirin. Adapun ‘Atha’, Malik, Syafi’i dan beberapa ulama lain membolehkannya meskipun mensyaratkannya, dan upahnya sah untuk diambil dengan dasar adanya hadits-hadits yang sahih menunjukkan kebolehannya.

 

واحتج من منعها بحديث عبادة بن الصامت أنه علم رجلا من أهل الصفة القرآن فأهدى له قوسا فقال له النبي صلى الله عليه وسلم

Ulama yang melarang (mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an) berhujjah dengan hadits ‘Ubadah bin Shamit bahwa dia mengajarkan Al-Qur’an kepada seorang lelaki penghuni Shuffah, kemudian dihadiahkan kepadanya sebuah busur. Maka Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

 

إن سرك أن تطوق بها طوقا من نار فاقبلها

Artinya: “Jika engkau suka dipakaikan kalung dari api di lehermu, maka silakan terima hadiah itu.”

 

وهو حديث مشهور رواه أبو داود وغيره وبآثار كثيرة عن السلف

Hadits tersebut adalah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Abu Dawud  dan lainnya. Dan masih banyak atsar dari ulama Salaf yang dipakai untuk berhujjah dengan pendapat ini.

 

وأجاب المجوزون عن حديث عبادة بجوابين

Para ulama yang membolehkan mengambil upah dari pengajaran Al Qur’an  menjawab tentang hadits ‘Ubadah itu dengan dua jawaban:

– أحدهما أن في إسناده مقالا

– والثاني أنه كان تبرع بتعليمه فلم يستحق شيئا ثم أهدي إليه على سبيل العوض فلم يجز له الأخذ بخلاف من يعقد معه إجارة قبل التعليم والله أعلم

 

  1. Pertama, Bahwa sanad hadits tersebut bermasalah.
  2. Kedua, Orang itu menyumbangkan tenaga untuk mengajar, sudah tentu dia tidak berhak mendapat apa-apa. Kemudian dia diberi hadiah sebagai tanda terima kasih, maka dia tentu tidak boleh mengambilnya. Lain halnya dengan orang yang mengadakan akad dengannya sebelum mengajar. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

November 2016
M S S R K J S
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d blogger menyukai ini: