At – Tibyan (05. Adab-Adab Mengajar Dan Belajar Al-Qur’an – 3. Keikhlasan Guru)


Masalah ke-3: Keikhlasan Guru

إخلاص المعلم له

[فصل] وليحذر كل الحذر من قصده التكبر بكثرة المشتغلين عليه والمختلفين إليه وليحذر من كراهته قراءة أصحابه على غيره ممن ينتفع به وهذه مصيبة يبتلى بها بعض المعلمين الجاهلين وهي دلالة بينة من صاحبها على سوء نيته وفساد طويته بل هي حجة قاطعة على عدم إرادته بتعليمه وجه الله تعالى الكريم فإنه لو أراد الله بتعليمه لما كره ذلك بل قال لنفسه أنا أردت الطاعة بتعليمه وقد حصلت وقد قصد بقراءته على غيري زيادة علم فلا عتب عليه

Seorang pengajar hendaknya menjaga diri dari sikap besar kepala dengan banyaknya jama’ah yang menghadiri pengajiannya. Begitu pula dia tidak boleh merasa jengkel apabila ada di antara muridnya yang belajar kepada guru lain. Jika tidak begitu, maka hal ini menunjukkan jeleknya niat dan rusaknya hati sang pengajar. Bahkan hal ini adalah tanda yang begitu kentara jika tujuannya mengajar bukan Karena Allah Ta’ala. Sayangnya sebagian pengajar ada yang tertimpa dengan musibah ini. Mestinya jikalau benar tujuan mengajarnya karena Allah, tidak perlu ada rasa benci di hatinya. Sebaliknya, dia akan mengatakan kepada dirinya: “Aku mengajar dalam rangka mentaati Allah, dan aku sudah meraihnya. Sedangkan dia belajar kepada orang lain untuk menambah ilmu, maka tidak ada yang salah dengan dirinya.”

 

وقد روينا في مسند الإمام المجمع على حفظه وإمامته أبي محمد الدارمي رحمة الله عليه عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال يا حملة القرآن أو قال يا حملة العلم اعملوا به فإنما العالم من عمل بما علم ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم يخالف عملهم علمهم وتخالف سريرتهم علانيتهم يجلسون حلقا يباهي بعضهم بعضا حتى أن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى

Kami dapati riwayat dalam kitab Musnad karya seorang Imam yang diakui kekuatan hafalan dan kepemimpinannya, yaitu Abu Muhammad Ad-Daarimi rahimahullah dari Ali bin Abu Thalib radhiyallohu ‘anhu, katanya: “Wahai para penghafal Al-Quran (atau barangkali beliau berkata : Wahai orang-orang yang berilmu)! Amalkanlah ilmu kalian karena orang alim itu ialah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya dan ilmunya sesuai dengan amalnya. Nanti akan muncul orang-orang yang mempunyai ilmu namun ilmunya tidak mampu melampaui tenggorokan mereka, perbuatan mereka bertentangan dengan ilmu mereka dan batin mereka bertentangan dengan zahirnya. Mereka duduk di majelis-majelis dan saling membanggakan dirinya masing-masing, sampai-sampai ada orang yang marah kepada kawan duduknya karena belajar kepada orang lain dan dia meninggalkannya. Amal-amal yang mereka lakukan di majelis-majelis itu tidaklah akan sampai kepada Allah Ta’ala.”

 

وقد صح عن الإمام الشافعي رضي الله عنه أنه قال وددت أن الخلق تعلموا هذا العلم يعني علمه وكتبه أن لا ينسب إلي حرف منه

Terdapat riwayat yang shahih dari Imam Asy-Syafi’i radhiyallohu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Aku berharap kiranya orang yang belajar ilmu ini – yakni ilmu dan kitab-kitab beliau – tidak menisbatkan kepadaku satu huruf pun.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Agustus 2016
M S S R K J S
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: