At – Tibyan (05. Adab-Adab Mengajar Dan Belajar Al-Qur’an – 1. Ikhlas)


هذا الباب مع البابين بعده مقصود الكتاب وهو طويل منتشر جدا فإني أشير إلى مقاصده مختصرة في فصول ليسهل حفظه وضبطه إن شاء الله تعالى

Bagian ini serta dua bagian berikutnya merupakan tujuan penulisan kitab ini. Bagian ini mengandung pembahasan yang panjang dan luas sekali. Saya telah berusaha menyajikan tujuan-tujuannya secara ringkas dalam beberapa sub bagian supaya mudah dihafal dan diamalkan, insya Allah.

[فضل] أول ما ينبغي للمقرئ والقارئ أن يقصدا بذلك رضا الله تعالى

Masalah ke-1: Ikhlas

Pertama-tama yang mesti menjadi perhatian bagi guru dan murid adalah mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala.

قال الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman:

 

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah Ta’ala dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.”  (QS Al-Bayyinah 98:5)

 

أي الملة المستقيمة

Yaitu agama yang lurus

 

وفي الصحيحين عن رسول الله صلى الله عليه وسلم

Diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam

 

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya dan sessungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.”

 

وهذا الحديث من أصول الإسلام

Hadits ini merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran Islam.

 

وروينا عن ابن عباس رضي الله عنهما قال إنما يعطى الرجل على قدر نيته

Kami telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhuma, katanya: “Sesungguhnya seseorang diberi ganjaran sesuai dengan kadar niatnya.”

 

وعن غيره إنما يعطى الناس على قدر نياتهم

Dan dari lainnya: “Sesungguhnya manusia diberi ganjaran sesuai dengan kadar niat-niat mereka.”

 

وروينا عن الأستاذ أبي القاسم القشيري رحمه الله تعالى قال الإخلاص إفراد الحق في الطاعة بالقصد وهو أن يريد بطاعته التقرب الى الله تعالى دون شئ آخر من تصنع لمخلوق أو اكتساب محمدة عند الناس أو محبة أو مدح من الخلق أو معنى من المعاني سوى التقرب إلى الله تعالى قال ويصح أن يقال الإخلاص تصفية الفعل عن ملاحظة المخلوقين

Kami telah meriwayatkan dari Al-ustadz Abu Qasim Al-Qusyairi rahimahullah dia berkata: “Ikhlas ialah melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala saja dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala tanpa suatu tujuan lainnya, seperti berpura-pura kepada makhluk atau menunjukkan perbuatan baik kepada orang banyak atau mengharap kecintaan atau pujian dari manusia atau sesuatu makna selain mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.” Dan dia berkata: “Dengan kata lain, ikhlas adalah memurnikan perbuatan dari rasa harap kepada makhluk.”

 

وعن حذيفة المرعشي رحمه الله تعالى الإخلاص استواء أفعال العبد في الظاهر والباطن وعن ذي النون رحمه الله تعالى قال ثلاث من علامات الإخلاص 1 – استواء المدح والذم من العامة 2 – ونسيان رؤية العمل في الأعمال 3 – واقتضاء ثواب الأعمال في الآخرة

Huzaifah Al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Ikhlas ialah kesamaan antara  perbuatan lahir dengan batinnya.” Diriwayatkan dari Dzun Nun Rahimahullah, katanya: “Tanda ikhlas ada tiga : tidak terpengaruh oleh pujian dan celaan orang; melupakan amal-amal yang sudah dikerjakan; dan mengharapkan pahala amal-amalnya di akhirat.”

 

وعن الفضيل بن عياض رضي الله عنه قال ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما

Diriwayatkan dari Fudhai bin Iyadh radhiyallohu ‘anhu, katanya: “Meninggalkan amal karena orang lain adalah riya’ dan mengerjakan amal karena orang lain adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Allah Ta’ala membebaskanmu dari keduanya.”

 

وعن سهل التستري رحمه الله تعالى قال نظر الأكياس في تفسير الإخلاص فلم يجدوا غير هذا أن تكون حركته وسكونه في سره وعلانيته لله تعالى وحده لا يمازجه شئ لا نفس ولا هوى ولا دنيا

Diriwayatkan dari Sahl At-Tustari rahimahullah, katanya: “Orang-orang cerdas memandang bahwa makna ikhlas tidak lepas dari makna berikut ini, yaitu gerak dan diamnya dalam keadaan sendiri ataupun di hadapan orang lain hanyalah bagi Allah Ta’ala semata tidak bercampur sesuatu apapun baik nafsu, keinginan ataupun tujuan duniawi.”

 

وعن السري رضي الله عنه قال لا تعمل للناس شيئا ولا تترك لهم شيئا ولا تغط لهم شيئا ولا تكشف لهم شيئا

Diriwayatkan dari As-Sariy radhiyallohu ‘anhu, katanya: “Jangan lakukan sesuatu karena manusia, jangan tinggalkan sesuatu karena mereka, jangan menutup sesuatu karena mereka dan jangan membuka sesuatu karena mereka.”

 

وعن القشيري قال أفضل الصدق استواء السر والعلانية

Diriwayatkan dari Al-Qusyairi, katanya: “kejujuran yang paling utama adalah kesamaan antara keadaan sendirian dan ketika berada di antara orang banyak.”

 

وعن الحارث المحاسبي رحمه الله تعالى قال الصادق هو الذي لا يبالي ولو خرج عن كل قدر له في قلوب

الخلائق من أجل صلاح قلبه ولا يحب اطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله ولا يكره إطلاع الناس على السئ من عمله فإن كراهته لذلك دليل على أنه يحب الزيادة عندهم وليس هذا من أخلاق الصديقين

Diriwayatakan dari Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullah, katanya: “Orang yang jujur adalah orang yang tidak memperdulikan apapun yang tersirat dalam hati orang lain dikarenakan baiknya hatinya, tidak suka orang-orang mengetahui kebaikan perbuatannya sedikit pun, tidak pula berat hati jika orang-orang mengetahui perbuatannya yang buruk, karena kebenciannya atas hal itu adalah bukti bahwa dia mendambakan pujian manusia. Demikian itu bukanlah akhlak orang-orang yang jujur.”

 

وعن غيره إذا طلبت الله تعالى بالصدق أعطاك الله مرآة تبصر فيها كل شئ من عجائب الدنيا والآخرة

Diriwayatkan dari lainnya: “Jika engkau memohon kejujuran kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala memberimu cermin di mana engkau melihat segala sesuatu dari keajaiban dunia dan akhirat.”

 

وأقاويل السلف في هذا كثيرة أشرنا إلى هذه الأحرف منها تنبيها على المطلوب وقد ذكرت جملا من ذلك مع شرحها في أول شرح المهذب وضممت إليها من آداب العالم والمتعلم والفقيه والمتفقه ما لا يستغني عنه طالب العلم والله أعلم

Demikian banyak perkataan ulama Salaf yang berkaitan dengan hal ini. Saya hanya menyinggung sebagian kecil saja sekedar untuk mengingatkan sesuai tujuan penulisan. Saya telah menyebutkan sejumlah pendapat ulama beserta penjelasannya di awal kitab Syarah Al-Muhadzdzab dan saya tambahkan adab-adab bagi guru dan murid, bagi para faqih dan pelajarnya, yang semua itu patut diketahui oleh penuntut ilmu. Wallahua’lam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Agustus 2016
M S S R K J S
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: