Tafsir Ali Imran Ayat 28-37 (Tafsir Hidayatul Insan)


Ayat 28-30: Menerangkan tentang larangan berwala’ (memberikan loyalitas) dan berpihak kepada orang-orang kafir baik lahir maupun batin, serta menerangkan tentang pembalasan terhadap amal pada hari Kiamat

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨) قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  (٢٩) يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (٣٠

28. Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali[1] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka[2]. Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya[3], dan hanya kepada Allah tempat kembali[4].

29. Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu[5] atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya”. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[6].

 

30. Pada hari ketika setiap diri mendapatkan semua kebajikan[7] dihadapkan (di depannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya[8]. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu[9]. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya[10]. Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Ayat 31-32: Bukti cinta kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan bahwa kecintaan Allah akan diperoleh dengan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (٣٢

31.[11] Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku[12], niscaya Allah mencintaimu[13] dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

32. Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul[14]. Jika kamu berpaling[15], ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir[16]”.

Ayat 33-37: Kisah Maryam, pemeliharaan Zakariyya terhadapnya, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa hisab

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ    (٣٣) ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٣٤) إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٣٥) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (٣٦)فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ     (٣٧)

33. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam[17], Nuh[18], keluarga Ibrahim[19] dan keluarga ‘Imran[20] melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)[21],

34. (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya adalah (keturunan) dari yang lain[22]. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui[23].

35. (Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata[24], “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu)[25]. maka terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui[26]”.

36. Maka ketika istri ‘Imran melahirkan anaknya, dia berkata, “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkan anak perempuan[27].” Padahal Allah lebih mengetahui apa yang dia lahirkan[28]. “Dan laki-laki tidak sama dengan perempuan[29]. Sesungguhnya aku memberi nama Maryam[30], dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk[31].”

37. Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik[32], membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakariya[33]. Setiap kali Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya[34]. Zakariya berkata: “Wahai Maryam! Dari mana (makanan) ini kamu peroleh?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa hisab.


[1] Wali jamaknya auliyaa, yang berarti teman yang akrab, pemimpin, pelindung atau penolong. Termasuk juga mencintai dan membela orang-orang kafir meninggalkan kaum mukmin. Semua ini dilarang.

Dalam ayat ini terdapat larangan mengadakan pendekatan dengan orang-orang kafir, berteman akrab dengan mereka, cenderung kepada mereka, memberikan mereka jabatan serta meminta bantuan mereka untuk perkara yang terdapat maslahat bagi kaum muslimin.

[2] Misalnya dengan mengadakan hudnah (genjatan senjata), atau menampakkan seakan-akan berwala’ dengan mereka di lisan, namun hati tidak setuju. Hal ini dilakukan sebelum Islam berjaya, dan diperuntukkan bagi orang yang tinggal di sebuah negeri sedangkan dia tidak memiliki kekuatan di sana.

[3] Oleh karena itu, janganlah mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya seperti dengan bermaksiat dan berwala’ kepada orang-orang kafir tanpa alasan menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti.

[4] Semua makhluk akan kembali kepada Allah untuk dihisab dan diberi pembalasan.

[5] Seperti berwala’ kepada mereka.

[6] Termasuk di antaranya berkuasa menyiksa orang-orang yang berwala’ kepada orang-orang kafir.

Dalam ayat ini terdapat petunjuk untuk membersihkan hati dan menghadirkan pengetahuan Allah di setiap waktu, sehingga seorang hamba malu kepada Tuhannya jika sampai hatinya dipenuhi pikiran rusak, bahkan seharusnya ia menyibukkan pikirannya untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah seperti mentadabburi ayat-ayat-Nya, mentadabburi hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengkaji suatu ilmu yang bermanfaat, memikirkan makhluk ciptaan Allah atau menasehati hamba-hamba Allah.

[7] Kebajikan atau dalam bahasa Arab disebut Al Khair, adalah nama untuk semua perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, berupa amal-amal shalih baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang besar maupun yang kecil.

[8] Untuk diberikan balasan.

[9] Hal ini disebabkan penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Ayat ini sama seperti ayat-ayat berikut:

“Supaya tidak ada ada orang yang mengatakan, “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah….dst.” (Terj. Az Zumar: 56)

“Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah.” (Terj. An Nisaa’: 42)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul”.—Kecelakaan besarlah bagiku; sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). (Terj. Al Furqan: 27-28)

“Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat “. (Terj. Az Zukhruf: 38)

Jika seseorang mengetahui hal seperti ini, tentu ia akan meninggalkan syahwat dan hawa nafsunya di dunia ini meskipun berat meninggalkannya daripada merasakan kesukaran-kesukaran dan menanggung penderitaan yang sangat berat dipikul pada hari itu. Akan tetapi, karena kezaliman dan kebodohan dalam dirinya, ia tidak melihat selain perkara yang dilihatnya langsung, ia tidak memiliki akal yang sempurna untuk memperhatikan akibat di belakang, sehingga dirinya berani berani berbuat maksiat dan meninggalkan perintah.

Ya Allah, bimbinglah kami dalam meniti hidup ini agar tetap istiqamah di atas jalan-Mu.

[10] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengulangi lagi peringatan ini karena sayang kepada kita, agar masa yang panjang tidak membuat hati kita keras dan agar kita memiliki rasa raja’ (berharap) dengan beramal shalih serta khauf (takut) sehingga meninggalkan maksiat. Kita meminta kepada Allah agar Dia mengaruniakan kepada kita rasa takut kepada siksa-Nya terus menerus, agar kita tidak melakukan perbuatan yang mendatangkan murka-Nya dan meminta kepada-Nya agar mengaruniakan kepada kita rasa raja’ agar kita tidak berputus asas dari rahmat-Nya.

[11] Dalam tafsir Al Jalalain diterangkan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang menyembah berhala, ketika mereka mengatakan “Kami tidak menyembah berhala kecuali karena cinta kepada Allah, agar mereka (berhala-berhala) itu mendekatkan kami kepada-Nya”, maka Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka apa yang disebutkan di atas, yakni perintah mengikuti Beliau; dengan mentauhidkan Allah (hanya beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala) dan meninggalkan sesembahan-sesembahan selain Allah.

[12] Ayat ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala namun tidak mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mentaati perintahnya dan tidak menjauhi larangannya, bahwa pengakuan cintanya adalah dusta sampai dia mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ayat ini ditimbang semua makhluk, iman dan kecintaan mereka kepada Allah tergantung sejauh mana ittiba’ (mengikutinya) mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[13] Apabila Allah sudah mencintai kamu, maka Dia akan memberikan balasan untukmu.

[14] Seperti melaksanakan perintahnya, yaitu mentauhidkan Allah.

[15] Jika mereka berpaling, maka tidak ada yang mereka ikuti selain kekufuran dan mentaati setan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barang siapa yang berkawan dengannya, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.” (Terj. Al Hajj: 4)

[16] Oleh karena Dia tidak mencintai mereka, maka Dia akan menghukum mereka.

[17] Contohnya dengan menciptakan Adam dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)- Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, menempatkannya di surga, memberinya ilmu pengetahuan, sifat santun dan keutamaan yang melebihi makhluk-makhluk yang lain.

[18] Allah menjadikannya sebagai rasul pertama, memberinya taufiq untuk bersabar dan siap memikul beban berat, rasa syukur yang tinggi dan menyebut baik namanya di setiap waktu dan zaman.

[19] Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah kekasih Allah, seorang yang rela mengorbankan dirinya ke dalam api, mengorbankan anaknya sebagai kurban, mengorbankan hartanya untuk para tamu, seorang yang berdakwah kepada Allah di malam dan siang, secara sembunyi maupun terang-terangan. Allah menjadikannya sebagai teladan yang diikuti oleh generasi setelahnya. Keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi dan diberi kitab. Termasuk ke dalam “Keluarga Ibrahim” adalah para nabi yang diutus setelahnya, karena mereka termasuk keturunannya, demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghimpunkan kesempurnaan yang terpisah-pisah, Beliau melebihi generasi terdahulu dan generasi kemudian, Beliau adalah Sayyidul Mursalin (tokoh para rasul).

[20] Imran adalah bapak Maryam atau bapak Musa ‘alaihis salam.

[21] Di antara faedah dan hikmah disebutkan kepada kita kisah mereka adalah agar kita mencintai mereka, mengikuti jejak mereka dan agar kita tidak terus-menerus mencela diri kita karena keterlambatan kita dan karena tidak ada pada diri kita sifat-sifat mulia yang ada pada mereka. Hal ini pun termasuk kelembutan Allah kepada mereka, ditampakkan pujian untuk mereka baik di hadapan generasi terdahulu maupun generasi setelahnya serta dijunjung kemuliaan mereka. Sungguh demikian besar kepemurahan Allah dan besarnya faedah bermu’amalah dengan-Nya. Anadi saja keutamaan mereka hanya disebut-sebut saja terus-menerus, maka hal itu pun sudah cukup sebagai keutamaan.

[22] Di mana antara yang satu dengan yang lain memiliki kemiripan baik dari sisi fisik maupun akhlak.

[23] Yakni Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak dipilih-Nya dan siapa yang tidak berhak dipilih. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dipilih Allah karena keadaan mereka yang diketahui Allah sehingga berhak mendapat pilihan-Nya sebagai karunia dan pemberian-Nya.

[24] Maksudnya: Ingatlah wahai Rasul! Tentang perkara Maryam, ibunya dan anaknya Isa ‘alaihis salam untuk membantah orang-orang yang menuhankan Isa atau mengatakan sebagai anak Allah –Maha Suci Allah-.

[25] Tidak disibukkan dengan urusan dunia, bahkan sibuk beribadah kepada Allah dan berkhidmat di Baitul Maqdis.

[26] Apa yang ada dalam hati.

[27] Dari perkataan ini diketahui bahwa istri Imran ingin melahirkan anak laki-laki karena lebih mampu berkhidmat.

[28] Allah lebih mengetahui terhadap anak yang dilahirkan istri Imran, dan kelak Allah akan mengadakan perkara penting terhadapnya.

[29] Menurut istri Imran, anak perempuan tidak cocok berkhidmat di baitul Maqdis, karena keadaan perempuan yang lemah dibanding laki-laki dalam berkhidmat, auratnya lebih tertutup, terkena haidh dsb.

[30] Dalam ayat ini terdapat dalil kelebihan laki-laki dibanding wanita, dalil memberi nama saat anak lahir dan bahwa ibu boleh menamai anak ketika bapaknya tidak suka.

[31] Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan,

“مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ إِلاَّ مَسَّهُ الشَّيْطَانُ حِيْنَ يُوْلَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا إِلاَّ مَرْيَمُ وَابْنُهَا”

“Tidak ada bayi yang lahir pun kecuali disentuh oleh setan saat lahirnya, sehingga ia menangis dan berteriak selain Maryam dan anaknya (Isa ‘alaihis salam).”

Terkutuk artinya dijauhkan dari rahmat Allah Azza wa Jalla.

[32] Allah mengabulkan do’anya dan menerima nadzarnya dengan penerimaan yang baik.

[33] Hal ini termasuk kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Dia membesarkan Maryam dalam keadaan yang sempurna, tumbuh beribadah kepada Allah dan mengungguli semua wanita, menyibukkan dirinya dengan beribadah serta menetapi mihrab (tempat shalatnya).

[34] Dalam ayat ini terdapat dalil adanya karamah para wali.

– See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-ali-imran-ayat-28-37.html#sthash.tzxV0a25.dpuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

April 2015
M S S R K J S
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d blogger menyukai ini: