Tafsir Al Anbiya Ayat 96-112


Ayat 96-100: Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj merupakan tanda dekatnya hari Kiamat.

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ      (٩٦) وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ       (٩٧) إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (٩٨) لَوْ كَانَ هَؤُلاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (٩٩) لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لا يَسْمَعُونَ                (١٠٠)

Terjemah Surat Al Anbiya Ayat 96-100

96. [1]Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.

97. Dan (apabila) janji yang benar telah dekat[2], maka tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak[3]. (Mereka berkata), “Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini[4], bahkan kami benar-benar orang yang zalim[5].”

98. [6]Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah[7], adalah bahan bakar Jahannam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.

99. Seandainya (berhala-berhala) itu tuhan[8], tentu mereka tidak akan memasukinya (neraka)[9]. Tetapi semuanya akan kekal di dalamnya.

100. Mereka merintih dan menjerit di dalamnya (neraka)[10] dan mereka di dalamnya tidak dapat mendengar[11].

Ayat 101-103: Selamatnya kaum mukmin dari neraka dan keamanan mereka pada hari yang sangat dahsyat, yaitu hari Kiamat.

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ (١٠١) لا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ (١٠٢) لا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الأكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (١٠٣

Terjemah Surat Al Anbiya Ayat 101-103

101. Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami[12], mereka itu akan dijauhkan (dari neraka).

102. Mereka tidak mendengar bunyi desis (api neraka)[13], dan mereka kekal dalam menikmati semua yang mereka inginkan[14].

103. Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih[15], dan para malaikat akan menyambut mereka[16] (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu[17].”

Ayat 104-106: Di antara bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (١٠٤) وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (١٠٥) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ (١٠٦

104. [18](Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama[19], begitulah Kami akan mengulanginya lagi[20]. Suatu janji yang pasti Kami tepati; Sungguh, kami akan melaksanakannya[21].

105. Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur[22] setelah (tertulis) di dalam adz dzikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini[23] akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh[24].

106. Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al Qur’an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah)[25].

Ayat 107-112: Risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan rahmat bagi alam semesta, di sana diserukan satu kesatuan yang menyingkirkan berbagai perbedaan, yaitu risalah tauhid.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١٠٧) قُلْ إِنَّمَا يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٨) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ آذَنْتُكُمْ عَلَى سَوَاءٍ وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَمْ بَعِيدٌ مَا تُوعَدُونَ (١٠٩) إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ (١١٠) وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (١١١) قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (١١٢

Terjemah Surat Al Anbiya Ayat 107-112

107. [26]Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

108. Katakanlah (Muhammad), “Sungguh, apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepada-Nya) [27]?”

109. Jika mereka berpaling[28], maka katakanlah (Muhammad), “Aku telah menyampaikan kepadamu (azab) yang kita ketahui bersama[29], dan aku tidak tahu apakah yang diancamkan kepadamu[30] itu sudah dekat atau masih jauh[31].”

110. Sungguh, Dia (Allah) mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan[32], dan mengetahui pula apa yang kamu rahasiakan.

111. Dan aku tidak tahu, boleh jadi hal itu[33] cobaan bagi kamu[34] dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.

112. Dia (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil[35]. Dan Tuhan kami Maha Pengasih tempat memohon segala pertolongan[36] atas semua yang kamu katakan[37].”


[1] Ayat ini merupakan tahdzir (peringatan) dari Allah kepada manusia agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan, dan bahwa sesungguhnya telah dekat waktu keluarnya Ya’juj dan Ma’juj; kedua kabilah besar dari keturunan Adam yang telah dibuat dinding besar oleh Dzulqarnain ketika manusia pada waktu itu mengeluhkan kepadanya tentang pengrusakan mereka di muka bumi. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj merupakan tanda besar hari kiamat yang menunjukkan sudah sangat dekatnya hari kiamat. Mereka akan keluar dari tempat-tempat tinggi dengan bersegera dan mengadakan kerusakan di muka bumi, mengalahkan manusia dan tidak ada yang sanggup memerangi mereka. Oleh karena itulah Nabi Isa ‘alaihis salam beserta pengikutnya berlindung di balik gunung, hingga kemudian Beliau berdoa kepada Allah agar mereka dibinasakan.

[2] Yaitu hari kiamat.

[3] Karena dahsyatnya.

[4] Yakni tentang hari kiamat sehingga mereka tidak beramal saleh dan mengisi hidup mereka dengan bersenang-senang.

[5] Karena mendustakan para rasul. Ketika hari kiamat itulah, mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah dihadapkan ke neraka dan siap menjadi bahan bakarnya, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

[6] Imam Thahawi meriwayatkan dalam Musykilul Atsar dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ada ayat dalam kitabullah yang tidak ditanyakan kepadaku oleh orang-orang dan aku tidak mengetahui, apakah mereka sudah mengetahui maksudnya sehingga tidak bertanya.” Lalu dikatakan, “Ayat apa itu?” Ia menjawab, “Yaitu ketika turun ayat, Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahannam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” Ayat ini terasa berat bagi penduduk Mekah. Mereka berkata, “Muhammad telah mencaci-maki tuhan-tuhan kita.” Lalu Ibnuz Zab’ariy bangkit dan berkata, “Ada apa dengan kamu?” Mereka menjawab, “Muhammad telah mencaci-maki tuhan-tuhan kita.” Ibnuz Zab’ariy berkata, “Apa yang ia ucapkan.” Mereka menjawab, “Dia (Muhammad) berkata, “Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahannam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” Ia (Ibnuz Zab’ariy) berkata, “Panggillah dia kepadaku.” Maka dipanggilah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Ibnuz Zab’ariy berkata, “Wahai Muhammad, apakah (ayat) ini ditujukan kepada tuhan-tuhan kami saja atau untuk semua yang disembah selain Allah?” Beliau menjawab, “Bahkan untuk semua yang disembah selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Ibnuz Zab’ariy berkata, “Kami akan pertentangkan hal itu, demi Tuhan pemilik bangunan ini. Wahai Muhammad, bukankah engkau mengatakan bahwa Isa adalah hamba yang saleh dan ‘Uzair adalah hamba yang salih, demikian pula para malaikat adalah hamba yang saleh?”Beliau menjawab, “Ya.” Ibnuz Zab’ariy berkata, “(Bukankah) Orang-orang Nasrani menyembah Isa, orang-orang Yahudi menyembah ‘Uzair, dan Bani Mulaih ini menyembah malaikat?” Penduduk Mekah pun bersorak karenanya, maka turunlah ayat, “Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka.” (Terj. Al Anbiyaa’: 101) Demikian pula turun ayat, “Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.” (Terj. Az Zukhruf: 57). Hadits ini menurut Syaikh Muqbil adalah shahih lighairih.

[7] Sesembahan orang musyrik yang masuk ke dalam neraka adalah patung, berhala dan orang yang disembah sedang dirinya ridha. Adapun Nabi Isa ‘alaihis salam yang disembah orang-orang Nasrani, ‘Uzair yang disembah orang-orang Yahudi dan para malaikat yang disembah oleh sebagian musyrikin, maka mereka tidak masuk neraka, karena mereka tidak ridha disembah dan mereka tergolong ke dalam ayat 101 di surah ini.

[8] Sebagaimana yang kamu sangka.

[9] Inilah hikmah mengapa sesembahan mereka dimasukkan pula ke dalam neraka, agar jelas bagi mereka bahwa semua itu tidak pantas disembah.

[10] Karena dahsyatnya azab. Ibnu Abi Hatim menyebutkan, bahwa Ibnu Mas’ud berkata, “Apabila sudah tinggal orang-orang yang kekal di neraka, maka mereka ditaruh ke dalam peti-peti dari api, di dalamnya ada paku-paku dari api, sehingga salah seorang di antara mereka tidak melihat ada orang selainnya yang diazab di neraka,” kemudian Ibnu Mas’ud membacakan ayat, “Mereka merintih dan menjerit di dalamnya (neraka) dan mereka di dalamnya tidak dapat mendengar.”

[11] Mereka tuli, bisu dan buta atau maksudnya mereka tidak mendengar selain suara neraka karena besarnya suara gejolaknya, rintihannya dan marahnya.

[12] Yakni orang-orang yang telah dicatat tergolong orang-orang bahagia dalam ilmu Allah, dalam Al Lauhul Mahfuzh, sehingga dimudahkan-Nya mereka di dunia mengerjakan amal saleh.

[13] Karena jauhnya mereka dari neraka.

[14] Berupa makanan, minuman, perkawinan dan pemandangan, di mana mereka mendapatkan kenikmatan yang belum pernah mereka lihat, belum pernah mereka dengar dan belum pernah terlintas di hati mereka.

[15] Maksudnya, kejutan pada hari kiamat tidaklah membuat mereka sedih dan gelisah. Yang demikian adalah ketika neraka didekatkan kepada manusia, maka ia menampakkan kemarahannya kepada orang-orang kafir dan pelaku maksiat. Ketika itu, manusia terkejut, sedangkan orang-orang mukmin tidak sedih dan gelisah karena mereka mengetahui apa yang akan mereka hadapi dan bahwa Allah akan mengamankan mereka dari kekhawatiran.

[16] Ketika mereka bangkit dari kubur.

[17] Oleh karena itu, bergembiralah dengan karamah (kemuliaan) yang akan diberikan kepadamu dan bersenanglah karena Allah mengamankan kamu dari hal yang dikhawatirkan dan hal yang tidak diinginkan.

[18] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan, bahwa pada hari kiamat Dia melipat langit yang luas dan besar ini seperti melipat atau menggulung lembaran kertas, lalu bintang-bintangnya berserakan, matahari dan bulan dilipat dan menyingkir dari tempatnya.

[19] Dari yang sebelumnya tidak ada.

[20] Yakni mengulangi kembali penciptaan seperti mengawali penciptaan.

[21] Maksudnya, akan melaksanakan janji tersebut karena sempurnanya kekuasaan-Nya.

[22] Yang dimaksud dengan Zabur di sini adalah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. Sebagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud ‘alaihis salam, sedangkan Adz Dzikr adalah kitab Taurat. Ada pula yang menafsirkan adz dzikr dengan Lauh Mahfuzh.

[23] Ada yang menafsirkan dengan surga, dan ada pula yang menafsirkan dengan bumi yang kita tempati ini, yakni bahwa orang-orang saleh akan Allah berikan kekuasaan di muka bumi sebagaimana yang disebutkan dalam surah An Nuur: 55.

[24] Yaitu mereka yang mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.

[25] Dengan petunjuk Al Qur’an mereka bisa sampai kepada Allah dan sampai ke surga-Nya.

[26] Selanjutnya, Allah memuji Rasul-Nya yang datang membawa Al Qur’an. Diutus-Nya Beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Orang-orang mukmin menerima rahmat itu dan mensyukurinya, oleh karenanya mereka membenarkan Beliau, sedangkan selain mereka kufur terhadap nikmat itu dan menggantinya dengan kekafiran serta menolak rahmat tersebut.

[27] Yakni dengan tunduk kepada apa yang diwahyukan kepadaku itu. Jika mereka melakukannya, maka pujilah Tuhan mereka yang telah mengaruniakan nikmat yang besar itu.

[28] Maksudnya, tidak mau beribadah kepada Allah Ta’ala saja.

[29] Maksudnya: Oleh karena itu, janganlah kamu katakan ketika azab datang menimpamu, “Tidak datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira dan peringatan.” Karena sekarang kita telah sama-sama mengetahui tentang tempat kembali bagi orang-orang kafir.

[30] Yakni azab atau hari kiamat.

[31] Karena yang mengetahuinya adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[32] Demikian pula perbuatan kamu dan ucapan serta perbuatan selain kamu.

[33] Maksudnya, melambatkan datangnya azab kepada kamu.

[34] Untuk menambah keburukanmu.

[35] Yaitu antara kami dengan mereka yang mendustakanku dengan diturunkan azab atau diberikan kemenangan terhadap mereka, dan Allah mengabulkannya, di mana mereka diazab pada perang Badar, dan peperangan yang lain sebelum tiba azab akhirat.

[36] Dalam hal ini kami tidak merasa ujub dengan diri kami dan bersandar kepada kemampuan kami, bahkan kami meminta pertolongan kepada Tuhan kami Ar Rahman terhadap apa yang kamu katakan.

[37] Seperti ucapan kamu bahwa Tuhan mempunyai anak, aku penyihir dan bahwa Al Qur’an adalah sya’ir. Selesai tafsir surah Al Anbiyaa’ dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi awwalan wa aakhiran.

– See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-anbiya-ayat-96-112.html#sthash.K0DKaXAK.dpuf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Februari 2015
M S S R K J S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d blogger menyukai ini: