TAFSIR SURAT AN-NAAS [FAIDAH DARI SYAIKH ‘UTSAIMIN DAN SYAIKH AS-SA’DIY]


 

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

 

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

  1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
  2. Raja manusia.
  3. Sembahan manusia.
  4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
  5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
  6. dari (golongan) jin dan manusia.

 

TAFSIR

 

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Rabb-nya manusia”

Yaitu Dia-lah Allah ‘azza wa jalla. Dia adalah Rabb-nya manusia dan selain manusia. Rabb-nya manusia, malaikat, jin, langit, bumi, matahari, rembulan dan Rabb-nya segala sesuatu. Namun untuk kesesuaian, maka dikhususkan dengan manusia.

 

2. Rajanya manusia

Maksudnya Raja yang memiliki kekuasaan yang tinggi dan pengaturan yang sempurna atas manusia. Dia-lah Allah ‘azza wa jalla.

 

3. Sembahan manusia

 

Yaitu yang disembah dan diibadahi oleh manusia. Maka yang berhak diibadahi dengan benar, disembah, dicintai dan diagungkan oleh hati, Dia-lah Allah ‘azza wa jalla.

 

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi

 

Para ulama berkata tentang “was-was” (al-waswas) adalah bentuk mashdar bermakna isim fa’il, yaitu muwaswis (yang membisikkan was-was). Al-waswas yaitu  apa saja yang merasuki hati berupa pemikiran, kebimbangan dan bayang-bayang yang tidak nyata.

Al-khannas yaitu yang bersembunyi, mundur, berpaling dan lari ketika nama Allah disebut; dialah setan. Oleh karena itu apabila dikumandangkan adzan untuk shalat maka setan akan lari sambil terkentut-kentut sampai adzan tidak terdengar olehnya. Bila adzan sudah selesai dia pun kembali lagi, sampai apabila dikumandangkan iqamat dia pun lari lagi. Selesai iqamat dia pun kembali lagi melintas di antara seseorang dengan dirinya. Setan itu berkata, ingatlah hal yang ini dan yang itu, yaitu (mengingatkan) apa-apa yang sebelumnya tidak diingat olehnya, terus terjadi keadaan itu sehingga orang tersebut tidak tahu sudah berapa raka’at shalat yang dia kerjakan[1]. Oleh karenanya ada sebuah atsar,

“Jika ghilan membuat lalai maka bersegeralah adzan”[2]

Ghilan yaitu setan yang membisikkan takhayyul kepada para musafir dalam perjalanannya sehingga seolah-olah ada sesuatu yang ditakutinya atau seperti musuhnya atau yang semisalnya. Bila orang itu bertakbir maka setan itu pun lari.

 

Firman Allah : [(artinya) dari (golongan) jin dan manusia] yaitu was-was itu terkadang datangnya dari jin dan terkadang datang dari manusia. Was-was dari setan sudah jelas, karena setan itu bisa berjalan seiring dengan peredaran darah manusia. Sedangkan was-was yang datangnya dari manusia maka betapa banyak orang yang mendatangi orang lain dengan melontarkan hal-hal yang buruk dan menghiasinya ke dalam hati orang-orang. Maka perkataan itu pun merasuki pikiran dan mempengaruhinya.

Apabila Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam hendak beristirahat di pembaringannya maka beliau membacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas dan meniupkannya ke telapak tangan kemudian mengusap wajah dan anggota badan beliau yang bisa terjangkau[3]. Sering pula beliau membaca surat-surat tersebut seusai shalat lima waktu[4]. Maka bagi setiap orang hendaknya dia memperhatikan sunnah dengan membacanya sesuai pada tempat-tempatnya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam.

 

Beberapa Faidah Tambahan dari Tafsir as-Sa’diy :

  1. Surat an-Naas ini mencakup permohononan perlindungan kepada Rabb, Raja dan Sesembahan manusia dari godaan setan.
  2. Setan adalah pokok atau asal dari segala bentuk kejelekan.
  3. Di antara bentuk kejelekan setan adalah dia membisikkan was-was ke dalam hati manusia, yaitu dengan cara memperindah bentuk kejelekan dan memberi semangat untuk melakukannya, serta memperburuk bentuk kebaikan dan melemahkan orang yang hendak melaksanakan kebaikan tersebut.
  4. Bahwasannya seluruh makhluk berada di bawah rububiyyah dan kekuasaan Allah.
  5. Diciptakannya makhluk adalah supaya meng-Esa-kan Allah, oleh karenanya penghambaan kepada Allah tidak bisa sempurna melainkan dengan menolak keburukan musuhnya yang senantiasa ingin memutus peribadahannya, menghalanginya serta menjadikannya sebagai bagian dari kelompoknya hingga akhirnya dia termasuk penghuni neraka.
  6. Was-was sebagaimana datang dari kalangan jin juga bisa datang dari kalangan manusia.

 


[1] Bukhari, Kitab al-Adzan, Bab Fadhlu at-Ta’dzin (608); Muslim, Kitab ash-Sholah Bab Fadhlu al-Adzan wa Hurubu asy-Syaithan ‘inda Sima’ihi (385).

[2] Musnad Imam Ahmad (14277).

[3] Bukhari, Kitab Fadhailu al-Quran, Bab Fadhlu al-Mu’awwidzat (5017).

[4] Abu Dawud, Kitab al-Witr Bab Fi al-Istighfar (1523); an-Nasai, Kitab as-Sahwu, Bab Al-Amru Bi Qira’ati al-Mu’awwidzat Ba’da at-Taslim Min ash-Shalah (1337); al-Hakim (1/253) dan beliau menshahihkannya sesuai persyaratan Muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

September 2011
M S S R K J S
« Agu   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d blogger menyukai ini: