APA HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN


Oleh
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta
sumber http://www.almanhaj.or.id
Pertanyaan.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah hukum membaca
Al-Qur’an, wajib atau sunnah, karena kami sering ditanya tentang hukumnya.
Di antara kami ada yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib, bila
membacanya tidak mengapa dan jika tidak membacanya tidak apa-apa. Bila
pernyataan itu benar tentu banyak orang yang meninggalkan Al-Qur’an, maka
apa hukum meninggalkannya dan apa pula hukum membacanya ?

Jawaban.
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlipah kepada
RasulNya, keluarga dan shabatnya, wa ba’du.

Yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk
membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan sebagai pelaksanaan atas
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab
(Al-Qur’an)” [Al-Ankabut : 45]

Dan firmanNya.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu
(Al-Qur’an)” [Al-Kahfi : 27]

Juga firmanNya tentang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang
menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia)”
[An-Naml : 91-92]

Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at
bagi pembacanya di hari Kiamat” [1]

Seharusnya seorang muslim itu menjauhi dari meninggalkannya dan dari
memutuskan hubungan dengannya, walau dengan cara apapun bentuk meninggalkan
itu yang telah disebutkan oleh para ulama dalam menafsirkan makna hajrul
Qur’an. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata di dalam Tafsinya (Tafsir Ibnu
Katsir 6/117) : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memberi khabar tentang
Rasul dan NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau
berkata.

“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini
sesuatu yang tidak diacuhkan” [Al-Furqan : 30]

Itu karena orang-orang musyrik tidak mau diam memperhatikan dan mendengarkan
Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan
Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya”
[Fushishilat : 26]

Bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka membuat gaduh, hiruk pikuk
dan perkataan-perkataan lain sehingga tidak mendengarnya, ini termasuk makna
hujran Al-Qur’an. Tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya termasuk
makna hujran. Tidak men-tadabburi dan tidak berusaha memahaminya termasuk
hujran. Tidak mengamalkannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak
menjauhi larangan-larangan termasuk makna hujran. Berpaling darinya kepada
hal lain, baik berupa sya’ir, percakapan, permainan, pembicaraan atau
tuntunan yang diambil dari selain Al-Qur’an, semua itu termasuk makna
hujran.

Wabillah at-taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa
shahbihi wa sallam.

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa
Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, hal. 8-11.
Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Muslim no. 804, dalam Shalat Al-Musafirin wa Qashruhu,
bab II dari hadits Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Muslim Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Kalender

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d blogger menyukai ini: